Bahasa Palembang mempunyai dua tingkatan, yaitu Baso Pelembang Alus atau Bebaso dan Baso Pelembang Sari-sari. Baso Pelembang Alus dipergunakan dalam percakapan dengan pemuka masyarakat, orang-orang tua, atau orang-orang yang dihormati, terutama dalam upacara-upacara adat. Bahasa ini berakar pada bahasa Jawa karena raja-raja Palembang berasal dari Kerajaan Majapahit, Kerajaan Demak, dan Kerajaan Pajang. Itulah sebabnya perbendaharaan kata Baso Pelembang Alus banyak persamaannya dengan perbendaharaan kata dalam bahasa Jawa.
Sementara itu, Baso sehari-hari dipergunakan oleh wong Palembang dan berakar pada bahasa Melayu. Dalam praktiknya sehari-hari, orang Palembang biasanya mencampurkan bahasa ini dan Bahasa Indonesia (pemilihan kata berdasarkan kondisi dan koherensi) sehingga penggunaan bahasa Palembang menjadi suatu seni tersendiri.

Bahasa Palembang memiliki kemiripan dengan bahasa daerah provinsi di sekitarnya, seperti Jambi, Bengkulu bahkan Jawa (dengan intonasi berbeda). Di Jambi dan Bengkulu, akhiran ‘a’ pada kosakata bahasa Indonesia yang diubah menjadi ‘o’ banyak ditemukan.

Seni
Sejarah tua Palembang serta masuknya para pendatang dari wilayah lain, telah menjadikan kota ini sebagai kota multi-budaya. Sempat kehilangan fungsi sebagai pelabuhan besar, penduduk kota ini lalu mengadopsi budaya Melayu pesisir, kemudian Jawa. Sampai sekarang pun hal ini bisa dilihat dalam budayanya. Salah satunya adalah bahasa. Kata-kata seperti “lawang (pintu)”, “gedang (pisang)”, adalah salah satu contohnya. Gelar kebangsawanan pun bernuansa Jawa, seperti Raden Mas/Ayu. Makam-makam peninggalan masa Islam pun tidak berbeda bentuk dan coraknya dengan makam-makam Islam di Jawa.

Kesenian yang terdapat di Palembang antara lain:
Kesenian Dul Muluk (pentas drama tradisional khas Palembang)
Tari-tarian seperti Gending Sriwijaya yang diadakan sebagai penyambutan kepada tamu-tamu dan tari Tanggai yang diperagakan dalam resepsi pernikahan
Lagu Daerah seperti Melati Karangan, Dek Sangke, Cuk Mak Ilang, Dirut dan Ribang Kemambang
Rumah Adat Palembang adalah Rumah Limas dan Rumah Rakit
Selain itu Kota Palembang menyimpan salah satu jenis tekstil terbaik di dunia yaitu kain songket. Kain songket Palembang merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan di antara keluarga kain tenun tangan kain ini sering disebut sebagai Ratunya Kain.
Hingga saat ini kain songket masih dibuat dengan cara ditenun secara manual dan menggunakan alat tenun tradisional. Sejak zaman dahulu kain songket telah digunakan sebagai pakaian adat kerajaan. Warna yang lazim digunakan kain songket adalah warna emas dan merah. Kedua warna ini melambangkan zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya dan pengaruh China di masa lampau. Material yang dipakai untuk menghasilkan warna emas ini adalah benang emas yang didatangkan langsung dari China, Jepang dan Thailand. Benang emas inilah yang membuat harga kain songket melambung tinggi dan menjadikannya sebagai salah satu tekstil terbaik di dunia.
Selain kain songket, saat ini masyarakat Palembang tengah giat mengembangkan jenis tekstil baru yang disebut batik Palembang. Berbeda dengan batik Jawa, batik Palembang nampak lebih ceria karena menggunakan warna – warna terang dan masih mempertahankan motif – motif tradisional setempat.

Kota Palembang juga selalu mengadakan berbagai festival setiap tahunnya antara lain “Festival Sriwijaya” setiap bulan Juni dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Palembang, Festival Bidar dan Perahu Hias merayakan Hari Kemerdekaan, serta berbagai festival memperingati Tahun Baru Hijriah, Bulan Ramadhan dan Tahun Baru Masehi.

Perkawinan
Melihat adat perkawinan Palembang, jelas terlihat bahwa busana dan ritual adatnya mewariskan keagungan
serta kejayaan raja-raja dinasti Sriwijaya yang mengalaimi keemasan berpengaruh di Semananjung Melayu berabad silam. Pada zaman kesultanan Palembang berdiri sekitar  abad 16 lama berselang setelah runtuhnya dinasti Sriwijaya, dan pasca Kesultanan pada dasarnya perkawinan ditentukan oleh keluarga besar dengan pertimbangan bobot, bibit dan bebet.
Pada masa sekarang ini perkawinan banyak ditentukan oleh kedua pasang calon mempelai pengantin itu sendiri.

Iklan

Di dekatmu terasa beda
Di sampingku kau selalu ada
Membuat hidup ini berwarna
Tidak lagi hanya jingga

Apa ini yang namanya cinta
Tak hanya memberi bunga
Juga bukan drama
Ku yakin ini cinta

Bersamamu terasa indah
Tak lagi gundah
Bersamamu  tak lagi menangis
Semua berubah menjadi manis

Apa ini yang namanya cinta
Tak hanya memberi bunga
Juga bukan drama

Ku yakin ini cinta

1. Perhatian. Bila kita ingin selalu mengingat apa yang dikatakan seseorang, perhatikanlah dengan baik apa yang dikatakan orang tersebut. Perhatikan setiap detil dari perkataannya. Pusatkan sepenuhnya perhatian kita pada lawan bicara yang ada di hadapan kita.

2. Gunakan seluruh panca indera anda. Semakin banyak anda menggunakan panca indera dalam memperhatikan sesuatu maka akan semakin lama ingatan terhadap hal tersebut membekas di otak anda. Lihat, rasakan, dan hayati apa yang mengalir dari setiap ucapan orang tersebut.

3. Hubungkan dengan sesuatu. Menghubungkan suatu benda dengan benda yang lain akan membantu anda mengingat benda tersebut. Misalnya anda bertemu seseorang lalu anda ingin mengingat namanya, perhatikan dengan seksama apa yang unik atau berbeda dari orang tersebut. Si Ani yang berambut lurus dan bermata indah badannya harum bagaikan bunga mawar. Semakin unik hubungan yang anda buat maka akan semakin bagus ingatan anda terhadap orang tersebut.

4. Antusialah dalam melakukan sesuatu. Semakin antusias dan senang anda terhadap sesuatu atau seseorang maka akan semakin mudah anda mengingatnya dalam jangka waktu lama. Bila anda menyukai sesuatu atau seseorang maka anda akan sangat memperhatikannya dan anda akan menggunakan seluruh panca indera anda untuk merasakannya. Bahkan anda akan menghubungkannya dengan sesuatu benda yang menarik sehingga bila anda melihat benda tersebut maka anda akan kembali mengingatnya.

5. Ulangi. Ulangi, ulangi dan ulangi apa yang ingin anda ingat. Para ahli dibidang per-otakan mengatakan bahwa otak manusia hanya mampu mengingat 7 bagian informasi dalam kurang dari 30 detik. Jika anda ingin lebih lama mengingat maka anda harus selalu mengulangi dalam benak apa yang ingin anda ingat.

6. Olah ragalah yang cukup. Olah raga terutama yang meningkatkan sirkulasi oksigen ke otak akan meningkatkan fungsi otak secara maksimal. Mengingat adalah salah satu fungsi otak yang sangat penting.

7. Kendalikan stress anda. Stress akan meningkatkan kadar hormon kortisol yang mengganggu fungsi otak akibat matinya sel saraf otak. Stress juga akan menganggu selera makan dan tidur anda yang pada gilirannya akan berdampak pula pada kemampuan daya ingat. Salah satu cara untuk mengendalikan stress adalah dengan berolah raga.

8. Tidurlah yang cukup. Saat kita terlelap terutama beberapa jam di awal tidur, otak kita akan menyibukan diri memproses segala informasi yang kita pelajari sebelumnya. Hal ini tentu akan menambah kemampuan daya ingat.

hari hari ku jalani
tak lagi dengan mu
kumelangkah dan percaya
ku mampu jalani

tanpa kata dulu kau pergi
namun ku tak menyesal
hidupku penuh tawa
dan tetap semangat

walau kadang ku teringat
masa indah kita
ku tak lagi peduli
bahagia diriku

(chorus)
trima kasih tuhan
kau tunjukan siapa dia
aku mengerti
cinta tak harus memiliki

slalu ku berjanji
tuk tak mengingatmu lagi
kisah kita hanyakan jadi
setitik masa indah

(verse)

walau kadang ku teringat
masa indah kita
ku tak lagi peduli
bahagia diri ku

(chorus)

trima kasih tuhan
kau tunjukan siapa dia
aku mengerti
cinta tak harus memiliki

slalu ku berjanji
tuk tak mengingatmu lagi
kisah kita hanyakan jadi
setitik masa indah

Proses terjadinya konflik
1. Proses controversial merupakan suatu bentuk ketidaksepahaman yang bersifat pasif. Dalam kehidupan sehari-hari kontroversi ditandai dengan minimnya toleransi antara beberapa pihak. Pada dasarnya proses kontroversi adalah proses dimana telah tertanam benih ketidaksepahaman tetapi masih tersimpan didalam hati dan belum diekspresikan dalam bentuk perilaku apapun. Urut-urutan proses kontroversi dalam masyarakat adalah sebagai berikut :
a)    General kontroversi
Merupakan tahap kontroversi yang bersifat umum, ditahap ini kedua belah pihak telah tertanam benih ketidaksenangan tetapi, masih tetap menjaga diri untuk tidak menyampaikan rasa ketidaksenangannya kepada pihak ketiga. Bentuk hubungan yang demikia ditandai dengan adanya sikap-sikap :minimnya kontak dan komunikasi, rendahnya kadar toleransi antara kedua belah pihak, belum ada gerakan-gerakan riil yang menunjukkan adanya pertentangan antara pihak satu dengan yang lainnya.
b)   Medial kontroversi
Merupakan sikap controversial yang bersifat menengah, artinya ada perkembangan yang tampak bahwa pihak satu dengan pihak lain ada ketidakcocokan. Pada tahap ini masing-masing pihak sudah mulai mengungkapkan rasa ketidaksenangannya, tetapi disampaikan melalui pihak ketiga. Adapun tanda-tanda dari tahap ini yaitu :adanya sikap saling tidak senang, komunikasi sangat minim, kadar toleransi relative rendah, mulai tampak secara nyata sikap ketidakcocokan kedua pihak dalam bentuk perilaku.
c)    Intensif kontroversi
Dalam tahap ini, sikap kontroversi telah mengakar kuat pada hubungan dua pihak atau lebih. Masing-masing pihak yang salaing kontroversi telah meyampaikan segala rasa ketidaksenangannya kepada pihak ketiga dan ditambah isu-isu ataupun fitnah untuk menjatuhkan pihak musuh. Tanda-tanda pada tahap ini antara lain: adanya ketidaksesuaian antara satu pihak dengan pihak lain, toleransi bersifat terbatas, kontak dan komunikasi sangat jarang (apabila terjadipun bersifat negatif), masing-masing pihak berusaha menjatuhkan satu sama lain.
d)   Mistery kontroversi
Tahap ini ditandai dengan serangan secara rahasia, masing-masing pihak yang saling tidak senang telah menyampaikan rasa ketidaksenangan kepada pihak ketiga, telah ditambahi dengan isu-isu atau fitnah-fitnah serta telah mulai melakukan gerakan-gerakan menentang yang sifatnya masih rahasia. Tanda-tanda pada tahap ini antara lain: ketidaksesuaian paham diantara berbagai pihak yang kontroversi, kontak dan komunikasi terbatas dan apabila terjadi sifatnya negatife, tidak adanya toleransi, keduanya saling menyerang secara rahasia.
e)    Taktis kontroversi
Merupakan bentuk hubungan kontroversial yang ditandai dengan adanya aksi saling menyerang secara fisik dan psikis, walaupun masih dalam bentuk peringatan. Pada tahap ini masing-masing pihak yang saling tidak senang telah menyampaikan rasa ketidaksenangannya melalui pihak ketiga ditambah dengan fitnah-fitnah serta melakukan tindakan-tindakan menentang secara rahasia dan diikuti dengan tindakan yang menngejutka pihak lawan. Pada tahap ini ditandai dengan :ketidaksesuaian paham diantara berbagai pihak yang berkontroversi, komunikasi sangat terbatas dan apabila ada hanya berupa ancaman atau tekanan pada pihak lawan, tidak ada toleransi, saling menghancurkan satu sama lain.
2.    Proses kompetisi merupakan suatu bentuk hubungan yang berupa persaingan dalam merebutkan segala sesuatu yang sifatnya terbatas. Dalam kompetisi ada dua macam sifatnya yaitu ;
a)    Kompetisi terbuka
Merupakan suatu bentuk kompetisi yang berlangsung secara terbuka dengan aturan-aturan yang jelas, namun hanya diikuti oleh mereka yang memenuhi kriteria tertentu.
b)   Kompetisi tertutup
Kompetisi tertutup merupakan suatu bentuk kompetisi yang pesertanya tidak jelas serta diikuti dengan aturan-aturan yang tidak jelas pula. Kompetisi ini sesungguhnya merupakan kompetisi yang samar-samar, biasanya terjadi antara kelompok masyarakat yang mempunnyai kepentingan yang sejenis, contohnya :persaingan antara pedagang produk sejenis dipasar.

Kearifan lokal menurut UU No.32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup BAB I Pasal 1 butir 30 adalah adalah “nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari”.

Selanjutnya Ridwan (2007:2) memaparkan:
Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu.
Pengertian tersebut, disusun secara etimologi, di mana wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi. Sebagai sebuah istilah wisdom sering diartikan sebagai “kearifan/kebijaksanaan”. Local secara spesifik menunjuk pada ruang interaksi terbatas dengan sistem nilai yang terbatas pula. Sebagai ruang interaksi yang sudah didesain sedemikian rupa yang di dalamnya melibatkan suatu pola-pola hubungan antara manusia dengan manusia atau manusia dengan lingkungan fisiknya. Pola interaksi yang sudah terdesain tersebut disebut setting. Setting adalah sebuah ruang interaksi tempat seseorang dapat menyusun hubungan-hubungan face to face dalam lingkungannya. Sebuah setting kehidupan yang sudah terbentuk secara langsung akan memproduksi nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut yang akan menjadi landasan hubungan mereka atau menjadi acuan tingkah laku mereka.

Adapun menurut Keraf (2010: 369) bahwa kearifan lokal adalah sebagai berikut:
Yang dimaksud dengan kearifan tradisional di sini adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Jadi kearifan lokal ini bukan hanya menyangkut pengetahuan dan pemahaman masyarakat adat tentang manusia dan bagaimana relasi yang baik di antara manusia, melainkan juga menyangkut pengetahuan, pemahaman dan adat kebiasaan tentang manusia, alam dan bagaimana relasi di antara semua penghuni komunitas ekologis ini harus dibangun. Seluruh kearifan tradisional ini dihayati, dipraktikkan, diajarkan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lain yang sekaligus membentuk pola perilaku manusia sehari-hari, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam dan Yang Gaib.
Hal tersebut menunjukkan bahwa: 

Pertama, kearifan tradisional adalah milik komunitas. Demikian pula, yang dikenal sebagai pengetahuan tentang manusia, alam dan relasi dalam alam juga milik komunitas. Tidak ada pengetahuan atau kearifan tradisional yang bersifat individual.

Kedua, kearifan tradisional, yang juga berarti pengetahuan tradisional, lebih bersifat praktis, atau “pengetahuan bagaimana”. Pengetahuan dan kearifan masyarakat adat adalah pengetahuan bagaimana hidup secara baik dalam komunitas ekologis, sehingga menyangkut bagaimana berhubungan secara baik dengan semua isi alam. Pengetahuan ini juga mencakup bagaimana memperlakukan setiap bagian kehidupan dalam alam sedemikian rupa, baik untuk mempertahankan kehidupan masing-masing spesies maupun untuk  mempertahankan seluruh kehidupan di alam itu sendiri. Itu sebabnya, selalu ada berbagai aturan yang sebagian besar dalam bentuk larangan atau tabu tentang bagaimana menjalankan aktivitas kehidupan tertentu di alam ini.

Ketiga, kearifan tradisional bersifat holistik, karena menyangkut pengetahuan dan pemahaman tentang seluruh kehidupan dengan segala relasinya di alam semesta. Alam adalah jaring kehidupan yang lebih luas dari sekedar jumlah keseluruhan bagian yang terpisah satu sama lain. Alam adalah rangkaian relasi yang terkait satu sama lain, sehingga pemahaman dan pengetahuan tentang alam harus merupakan suatu pengetahuan menyeluruh.

Keempat, berdasarkan kearifan tradisional dengan ciri seperti itu, masyarakat adat juga memahami semua aktivitasnya sebagai aktivitas moral. Kegiatan bertani, berburu dan menangkap ikan bukanlah sekedar aktivitas ilmiah berupa penerapan pengetahuan ilmiah tentang dan sesuai dengan alam, yang dituntun oleh prinsip-prinsip dan pemahaman ilmiah yang rasional. Aktivitas tersebut adalah aktivitas moral yang dituntun dan didasarkan pada prinsip atau tabu-tabu moral yang bersumber dari kearifan tradisional.

Kelima, berbeda dengan ilmu pengetahuan Barat yang mengkalim dirinya sebagai universal, kearifan tradisional bersifat lokal, karena terkait dengan tempat yang partikular dan konkret. Kearifan dan pengetahuan tradisional selalu menyangkut pribadi manusia yang partikular (komunitas masyarakat adat itu sendiri), alam (di sekitar tempat tinggalnya) dan relasinya dengan alam itu. Tetapi karena manusia dan alam bersifat universal, kearifan dan pengetahuan tradisional dengan tidak direkayasapun menjadi universal pada dirinya sendiri. Kendati tidak memiliki rumusan universal sebagaimana dikenal dalam ilmu pengetahuan modern, kearifan tradisional ternyata ditemukan di semua masyarakat adat atau suku asli di seluruh dunia, dengan substansi yang sama, baik dalam dimensi teknis maupun dalam dimensi moralnya.

Menurut Teezzi, dkk (dalam Ridwan, 2007:3) mengatakan bahwa “akhir dari sedimentasi kearifan lokal ini akan mewujud menjadi tradisi atau agama”. Dalam masyarakat kita, kearifan-kearifan lokal dapat ditemui dalam nyayian, pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam perilaku sehari-hari. Kearifan lokal biasanya tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang telah berlangsung lama. Keberlangsungan kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai itu menjadi pegangan kelompok masyarakat tertentu yang biasanya akan menjadi bagian hidup tak terpisahkan yang dapat diamati melalui sikap dan perilaku mereka sehari-hari.

Proses sedimentasi ini membutuhkan waktu yang sangat panjang, dari satu generasi ke generasi berikut. Teezzi, dkk (dalam Ridwan, 2007:3) mengatakan bahwa „kemunculan kearifan lokal dalam masyarakat merupakan hasil dari proses trial and error dari berbagai macam pengetahuan empiris maupun non-empiris atau yang estetik maupun intuitif‟.

Ardhana (dalam Apriyanto, 2008:4) menjelaskan bahwa: menurut perspektif kultural, kearifan lokal adalah berbagai nilai yang diciptakan, dikembangkan dan dipertahankan oleh masyarakat yang menjadi pedoman hidup mereka. Termasuk berbagai mekanisme dan cara untuk bersikap, bertingkah laku dan bertindak yang dituangkan sebagai suatu tatanan sosial.

Di dalam pernyataan tersebut terlihat bahwa terdapat lima dimensi kultural tentang kearifan lokal, yaitu (1) pengetahuan lokal, yaitu informasi dan data tentang karakter keunikan lokal serta pengetahuan dan pengalaman masyarakat untuk menghadapi masalah serta solusinya. Pengetahuan lokal penting untuk diketahui sebagai dimensi kearifan lokal sehingga diketahui derajat keunikan pengetahuan yang dikuasai oleh masyarakat setempat untuk menghasilkan inisiasi lokal; (2) Budaya lokal, yaitu yang berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan yang telah terpola sebagai tradisi lokal, yang meliputi sistem nilai, bahasa, tradisi, teknologi; (3) Keterampilan lokal, yaitu keahlian dan kemampuan masyarakat setempat untuk menerapkan dan memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki; (4) Sumber lokal, yaitu sumber yang dimiliki masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan melaksanakan fungsi-fungsi utamanya; dan (5) proses sosial lokal, berkaitan dengan bagaimana suatu masyarakat dalam menjalankan fungsi- fungsinya, sistem tindakan sosial yang dilakukan, tata hubungan sosial serta kontrol sosial yang ada.

Refrensi:
Keraf, A.S. (2010). Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Ridwan, N.A. (2007). “Landasan Keilmuan Kearifan Lokal”. Jurnal Studi Islam dan Budaya. Vol.5, (1), 27-38.
Apriyanto, Y. dkk. (2008). “Kearifan Lokal dalam Mewujudkan Pengelolaan Sumberdaya Air yang Berkelanjutan”. Makalah Pada PKM IPB, Bogor.

Sabtu,14 September 2013

Pagi ini aku pergi ke sebuah lapangan tenis untuk melengkapi nilai olahragaku.
Aku melihat temantemanku bermain dengan lincah dan lihai melayangkan bola kecil hijau stabilo.
aku menunggu di pinggir lapangan menunggu giliranku.
Dan aku taksengaja melihat dia datang menuju tempat ini juga. Tak lama temantemanku yang duluan bermain sudah selesai, dan sekarang giliranku,aku memasuki lapangan dengan raket pinjaman dari temanku,aku berdiri di lapangan sudut kiri, dan aku melihat dia disudut kanan lapangan dan pak guru pun memberi bola kecil hijau stabilo kepada temantemanku yang berada disamping ku, dan aku bersama mereka saling bermain tenis bersama, dan aku melihati bola itu dan saat dia menerima bola dari salah satu teman yang memukul bola dan ternyata bola itu mengarah padaku tapi aku tidak membalasnya dengan sempurna.
Dan saat aku tidak lagi mendapat giliran aku pun memikirkan, apa ini sebuah kebetulan atau apa. aku sungguh senang, karna bisa satu lapangan dengan dia.
Dulu aku dan dia saat di sekolah menengah pertama (smp) sempat saling menyapa dan tak sekedar dekat, dulu dia baik, penyanyang, perhatian dengan aku. Tapi kisah itu tak berjalan lama, ada suatu kejadian yang membuat kita beradu kata dan saling menjauh.
Tapi di pagi ini disebuah lapangan yang sama kita bisa saling bertatap muka tetapi tidak menyapa mungkin kau menatap bola yang melayang kearah temanteman yang ingin memukul bola itu,tapi tak tau mengapa masih saja mata ini tertuju ke arah baju hijau tua itu sampai aku tak terlihat jelas bola yang mengarah kepadaku. Walau aku dan dia bersekolah menengah atas(sma) yang sama lagi sekarang tapi kita jarang bertatap muka karna berbeda jurusan aku memilih ips dan dia memilih ipa, dan kita dipisahkan oleh sebuah tangga, dia dilantai 3 dan aku dilantai 2.
Sungguh senang bila kita bisa menjalin pertemanan lagi dan tak seperti orang asing semenjak peristiwa itu. Aku selalu merasa bersalah setelah peristiwa itu. Tapi peristiwa itu sudah 2 tahun yang lalu dan yang berlalu biarkan berlalu. Tapi apakah kita tak bisa menjalin hubungan baik seperti dulu?

Intinya,
Dapat bersama di salah satu lapangan yang sama aja sudah sesenang ini coba kita bisa saling menyapa seperti dulu mungkin.

Dari sebuah mobil hitam menuju tempat berlindungku